Selasa, 24 Januari 2012

Kasmaran

Kasmaran di sini adalah salah satu subjudul yang ada dalam buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya" by Ajahn Brahm. Buku yang hari kamis 19/01/2012 kemarin achan beli di Gramedia Metropolitan Mall (waktu itu lagi dipulangin cepat dari kantor karena demo) ini benar-benar menarik. Tapi achan di sini bukan mau bahas isi dari buku ini, melainkan salah satu cerita di buku ini yang mau achan share.

Cerita ke-17 yang berjudul "Kasmaran"  ini benar-benar membuat achan menangis haru dan kemudian tertawa terbahak-bahak setelahnya. Berikut achan kutip sebagian dari ceritanya. (sebagian aja ya, dan semoga gak ada yang menuntut achan karena mempublish isi buku orang).

Para biksu tidak punya percintaan bercahaya lilin, tetapi mereka menyalakan cahaya realita. Jika Anda ingin bermimpi, jangan datang ke wihara. Pada tahun pertama saya sebagai biksu di Thailand timur laut, saya bepergian dengan mobil, duduk di belakang bersama seorang samanera (bakal biksu) dan seorang biksu Barat, beserta Ajahn Chah, guru saya, yang duduk di samping sopir. Ajahn Chah tiba-tiba menoleh ke belakang, memandang ke samanera Amerika yang duduk di sebelah saya, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa Thai. Si biksu ketiga yang fasih berbahasa Thai lantas menerjemahkan perkataan Ajahn Chah, "Ajahn Chah bilang bahwa kamu sedang memikirkan pacarmu di L.A. sana."

Rahang si samanera muda seolah copot ke lantai mobil saking kagetnya. Ajahn Chah telah membaca pikirannya dengan akurat. Ajahn Chah tersenyum, dan kata-kata berikutnya diterjemahkan sebagai, "Jangan khawatir. Kita bisa mengatasi itu. Laik kali kalau kamu menulis surat kepadanya, mintalah dia mengirimkan sesuatu yang pribadi buatmu, sesuatu yang paling erat berkaitan dengannya, yang bisa kamu bawa-bawa ketika kamu rindu kepadanya, untuk mengingatkan akan dirinya."

"Apa itu boleh bagi seorang biksu?" tanya sang samanera dengan terkejut.

"Tentu saja," kata Ajahn Chah.

Barangkali para biksu akan memahami soal percintaan setelah ini.

Apa yang dikatakan oleh Ajahn Chah berikutnya memerlukan waktu yang lama untuk diterjemahkan, sebab si penerjemah harus menghentikan tawa dan menenangkan dirinya dahulu.

"Ajahn Chah bilang..." si penerjemah berjuang menahan tawa untuk mengeluarkan kata-kata berikut, sembari menghapus air mata geli dari matanya. "Ajahn Chah bilang kamu harus minta dia untuk mengirimkan sebotol tahinya. Lalu kapanpun kamu merasa kangen dengannya, kamu bisa mengambil dan membuka botol itu!"

Ya, itu kan sesuatu yang pribadi. Dan saat kita mengungkapkan cinta kepada pasangan kita, bukankah kita sering mengatakan bahwa kita mencintai segala sesuatu darinya? Nasihat yang sama juga berlaku bagi seorang biarawati yang kangen pada cowoknya.

Apa yang saya bilang tadi, jika Anda menginginkan fantasi asmara, minggat saja dari wihara kami.


Sampai logo achan nangis. Entahlah, berasa sesuatu luar biasa bergemuruh dan berontak keluar (hahaha... maklum pengalaman pribadi). dan kemudian seperti orang gila, achan langsung ketawa dengan air mata masih basah di wajah karena baca lanjutan ceritanya.

Begitulah, cerita yang ringan, jenaka namun bisa menyentuh di saat yang bersamaan. Paling gak itu menurut achan ^_^.